Saat Pirlo melakoni debutnya untuk Brescia, seorang pengamat sepakbola yang dikutip oleh Daily Mail menyebut
bahwa para jurnalis yang ada saat itu langsung tertawa-tawa. Adalah
nama si pemuda tanggung, yang ketika itu berusia 16 tahun dan 2 hari,
yang memancing reaksi tersebut.
Dalam bahasa Italia, ada istilah yang dapat dipergunakan untuk ejekan dan cuma berbeda satu huruf dari nama Pirlo. Kata itu adalah "Pirla".
"Artinya idiot. Jadi (nama) Pirlo terdengar sangat lucu untuk orang Italia. Ketika Andrea membuat debutnya untuk Brescia, semua jurnalis tertawa. Mereka kini tak lagi tertawa," kata pengamat sepakbola tersebut.
Sebagai pemain, Pirlo dikenal sebagai salah seorang regista, atau deep-lying playmaker, yang tangguh. Kemampuannya di posisi itu sendiri ia akui tumbuh pesat di bawah arahan Carlo Ancelotti yang memboyongnya ke AC Milan pada tahun 2001. "Aku akan berterima kasih kepada dirinya untuk selamanya. Karier baruku berawal dari situ," aku Pirlo di Daily Mail.
Piawai beroperasi di lini tengah sebagai pengendali tempo dan irama permainan timnya, sampai-sampai mendapatkan julukan L'Architetto (Sang Arsitek) atau Il Metronomo (Si Metronom), Pirlo juga dikenal punya tendangan bebas nan mematikan. Hal itu rupanya buah dari latihan Pirlo dalam meniru permainan sejumlah pemain hebat di masa lalu, khususnya dalam situasi bola mati.
"Sejak kecil aku selalu menonton video-video (Roberto) Baggio, Zico, dan Maradona, dan kemudian aku berusaha menirukan mereka saat bermain sendirian dengan (menghadapi) dinding. Memang ada unsur bakat, tapi Anda harus memupuk bakat itu," jelasnya.
Setelah bicara tentang masa lalu, Pirlo lalu membahas soal masa depan. Dengan usia yang terus merayap naik--usianya kini sudah 33 tahun--sampai kapan ia mau terus bermain sepakbola?
"Aku berharap terus bermain selama mungkin, tapi aku tak mau cuma sekadar jadi pelengkap dalam tim. Saat aku menyadari semua sudah berakhir, itulah saatku menutup karier," jawabnya.
Dalam bahasa Italia, ada istilah yang dapat dipergunakan untuk ejekan dan cuma berbeda satu huruf dari nama Pirlo. Kata itu adalah "Pirla".
"Artinya idiot. Jadi (nama) Pirlo terdengar sangat lucu untuk orang Italia. Ketika Andrea membuat debutnya untuk Brescia, semua jurnalis tertawa. Mereka kini tak lagi tertawa," kata pengamat sepakbola tersebut.
Sebagai pemain, Pirlo dikenal sebagai salah seorang regista, atau deep-lying playmaker, yang tangguh. Kemampuannya di posisi itu sendiri ia akui tumbuh pesat di bawah arahan Carlo Ancelotti yang memboyongnya ke AC Milan pada tahun 2001. "Aku akan berterima kasih kepada dirinya untuk selamanya. Karier baruku berawal dari situ," aku Pirlo di Daily Mail.
Piawai beroperasi di lini tengah sebagai pengendali tempo dan irama permainan timnya, sampai-sampai mendapatkan julukan L'Architetto (Sang Arsitek) atau Il Metronomo (Si Metronom), Pirlo juga dikenal punya tendangan bebas nan mematikan. Hal itu rupanya buah dari latihan Pirlo dalam meniru permainan sejumlah pemain hebat di masa lalu, khususnya dalam situasi bola mati.
"Sejak kecil aku selalu menonton video-video (Roberto) Baggio, Zico, dan Maradona, dan kemudian aku berusaha menirukan mereka saat bermain sendirian dengan (menghadapi) dinding. Memang ada unsur bakat, tapi Anda harus memupuk bakat itu," jelasnya.
Setelah bicara tentang masa lalu, Pirlo lalu membahas soal masa depan. Dengan usia yang terus merayap naik--usianya kini sudah 33 tahun--sampai kapan ia mau terus bermain sepakbola?
"Aku berharap terus bermain selama mungkin, tapi aku tak mau cuma sekadar jadi pelengkap dalam tim. Saat aku menyadari semua sudah berakhir, itulah saatku menutup karier," jawabnya.





0 comments:
Post a Comment